Ole! Udah bulan kedua aja di tahun 2015 ini. Memasuki bulan terpendek di setiap tahunnya, atau orang biasa menyebutnya dengan bulan kasih sayang — Februari.

Sebagai tindak lanjut dari postingan sebelumnya – 7 Hal Penting Dalam Mencapai Visi Di Tahun 2015 – kembali gue breakdown poin kedua yang bakal ditingkatkan di tahun-tahun mendatang. Nomor 2 tersebut adalah : Knowledge. Kenapa harus knowledge alias pengetahuan? Simpel, karena dalam era globalisasi seperti sekarang ini, pengetahuan memegang peranan sebagai fondasi dasar untuk diri sendiri. Less knowledge, less value. Ya bahasa kasarnya, semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin banyak kesempatan yang akan kita peroleh, dan juga sebaliknya. Kesempatan disini bisa berarti luas : karir, finansial, kesehatan, jodoh, kehidupan sosial, dan lain sebagainya.

Dan gue pribadi selalu memandang knowledge sebagai hal penting, kalo gak boleh dikatakan sebagai yang terpenting. Meski di kerjaan kita sekarang hanya terlibat dalam satu ilmu tertentu, misalkan perbankan,  bukan berarti kita hanya mempelajari ilmu perbankan. Analoginya adalah, misalkan lo kerja di bank yang mayoritas seputar keuangan, lo juga harus bisa mengerti hal-hal lainnya seperti : asuransi diri, proses rekrutmen, proses bisnis, desain kreatif, atau bahkan ilmu entrepreneur.

Pernah denger pertanyaan seperti ini : Jika divisualisasikan gelas berisi air setengah tinggi gelas, mana yang Anda lihat, gelas setengah penuh atau gelas setengah kosong?

Gelas

“gelas setengah kosong atau gelas setengah penuh? (source : imgkid.com)”

Jawaban bisa bervariasi, tergantung sudut pandang si pengamat. Dari segi psikologis mengatakan bahwa orang yang mengatakan gelas setengah penuh dapat digolongkan sebagai orang optimis, sementara orang yang mengatakan gelas setengah kosong dapat digolongkan sebagai orang yang pesimis. Kenapa begitu? Yah biarlah teori psikologi yang menjawabnya.

Gue pribadi selalu mengatakan visualisasi tersebut sebagai gelas setengah kosong. Meski dari sisi piskologis digolongkan sebagai orang yang pesimis. Tapi untuk case ini, adalah mengenai utilisasi diri. Analoginya adalah, bahwa keadaan apapun bisa bermakna ganda, dan interpretasinya kita harus selalu optimis, dan bahwa gelas setengah kosong masih menyisakan room for improvement ataupun bisa diisi air lagi untuk mencapai keadaan optimal (gelas penuh 100%). Dan terkait knowledge, gue selalu mengasosiasikannya dengan visualisasi gelas ini. Bahwa diri gue masih setengah kosong, dan masih perlu diisi lagi. Artinya adalah, gue masih belum puas dengan apa yang udah gue dapet sekarang (dalam hal pengetahuan), dan gue masih menyisakan banyak ruang untuk menerima pengetahuan baru lainnya.

Banyak cara yang gue lakukan : (1) lanjutin kuliah S2, (2) sering ngikut acara training atau workshop, (3) join sama komunitas tertentu sesuai passion, (4) belajar dari expert, ambil contoh, belajar dari rekan kantor yang lebih kompeten dan punya pengalaman, dan (5) perbanyak teman dan koneksi.

Intinya adalah jangan takut untuk memulai. Ada yang sering bilang ke gue, bahwa mereka terkendala umur, dan di umur segitu udah bukan saatnya lagi belajar. Salah besar, man! Gak ada kata telat untuk belajar, menurut gue. Selama kita pribadi masih menyisihkan waktu dan tenaga kita untuk melakukan apapun demi menambah pengetahuan, niscaya hasilnya akan terlihat suatu saat ke depan. Room for improvement penting, dan yang lebih penting adalah mengisi room tersebut dengan knowledge.

So, pilih yang mana teman : gelas setengah penuh atau gelas setengah kosong? 🙂

Total Views: 2988 ,