Manchester United di bawah kendali Louis van Gaal sepertinya sudah mulai sedikit menemukan keseimbangan dalam permainan. Van Gaal tampaknya telah menemukan formula yang pas untuk menangani sekumpulan pemain bintang di skuad asuhannya. Tidak perlu menggunakan jasa orang pintar, jelas terlihat bahwa Manchester United dibawah kendali van Gaal sangat doyan menggunakan formasi 4-2-3-1.

MU - 4231

“Formasi 4-2-3-1 Manchester United tahun 2015/2016”

Di bawah mistar gawang, jelas David De Gea adalah pilihan utama. Mengawal sang kiper di lini pertahanan, cukup membuat kening van Gaal dan staf pelatih pusing 7 keliling. Dimulai dari pos kanan, rotasi antara Darmian dan Valencia adalah opsi terbaik, sementara di sisi kiri, cederanya bek muda berbakat Luke Shaw, membuat pilihan jatuh antara Daley Blind dan sesekali rotasi antara Rojo dan Ashley Young. Di tengah cukup rumit. Bek tengah murni adalah Smalling dan Jones, sementara McNair mengintip dari bangku cadangan. Namun van Gaal belakangan juga mempercayai Daley Blind mengisi pos lini belakang, tentu dengan fleksibilitas bermain di segala posisi Blind akan sangat berguna bagi perjalanan MU di semua kompetisi musim ini.

Beralih ke lini tengah yang tidak kalah rumitnya. Dengan formasi 2 gelandang di sentral lapangan, posisi tersebut diperebutkan antara Morgan Schneiderlin, Bastian Schweinsteiger, Michael Carrick, Ander Herrera, dan Marouane Fellaini. Jelas pilihan rumit dari stok pemain yang ada. Untuk Liga Inggris mungkin pasangan Schneiderlin dan Carrick patut dicoba, sementara untuk ajang Liga Champions, pengalaman Schweinsteiger akan menyokong kreativitas Herrera. Fellaini mungkin akan lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan.

Di lini ofensif, Wayne Rooney sang kapten adalah pilihan mutlak. Tersisa 3 tempat untuk diperebutkan antara Juan Mata, Memphis Depay, Anthony Martial, dan James Wilson. Tiga nama pertama layak dikedepankan, sementara young guns semacam Pereira, Lingard, dan James Wilson akan menjadi pelapis sekaligus amunisi di masa depan (juga masih ada Januzaj yang masih disekolahkan ke Dortmund).

Nah, dengan materi pemain seperti disebutkan diatas sepertinya skuad MU memiliki lebih dari kapabilitas untuk menjuarai salah satu ajang yang diikuti mereka di musim ini. Namun entah kenapa sejauh ini, perjalanan MU tidak bisa dibilang mulus, dan bahkan tidak sedikit fans yang mengecam cara main pasukan van Gaal sejauh ini. Pelatih berkebangsaan Belanda ini memang terkenal dengan obsesinya terhadap penguasaan bola alias ball possesion. Dari data statistik yang dikeluarkan Whoscored memang terbukti, bahwa skuad MU mayoritas mengantongi rata-rata penguasaan bola sebesar 58% per laga (di tujuh laga pertama Liga Inggris 2015/2016). Catatan ini seharusnya mengingatkan fans sepakbola akan indahnya penguasaan bola ala Barcelona asuhan Pep Guardiola (dengan rata-rata penguasaan bola dalam setiap musimnya mencapai 60% atau lebih). Namun, janganlah membandingan MU ala van Gaal dengan Barcelona ala Pep Guardiola. Sangat jauh api dari panggang, dan banyak fans mencibir bahwa MU sekarang adalah Barcelona wannabe. Banyak fans tidak habis pikir, kenapa aliran bola hanya muter-muter di tengah saja, dan lini depan dinilai mandul dan tidak bertaji.

Sebelum membandingan kondisi sekarang dengan kejayaan Barcelona asuhan Pep Guardiola, mari sejenak membandingkan kondisi sekarang dengan permainan Manchester United dibawah asuhan sang legenda, Sir Alex Ferguson. Sekering-keringnya atau sejelek-jeleknya prestasi Manchester United asuhan Sir Alex, namun tidak pernah sekalipun fans Manchester United mencibir permainan tim kala itu. Bermodalkan formasi klasik 4-4-2 (dimana era itu belum banyak klub yang menggunakan formasi 4-2-3-1), permainan MU sangat mengalir dan sangat enak untuk ditonton. Jika ditelaah lebih lanjut, memang ada perbedaan signifikan antara formasi 4-4-2 dengan 4-2-3-1. Formasi 4-4-2 klasik sangat mengandalkan kekuatan serangan dari sisi sayap dan kemampuan striker untuk membuka ruang dan mencetak gol, dan formasi ini sangat membutuhkan kekuatan fisik, kecepatan, dan pengertian. Sementara formasi 4-2-3-1 adalah untuk mencari keseimbangan antara lini ofensif dengan lini defensif, dimana formasi ini sangat mengandalkan fleksibilitas dan kemampuan mencari posisi.

Dari perbedaan prinsip formasi jelas terlihat bahwa formasi 4-4-2 akan menghasilkan aliran permainan yang terorganisasi dan meskipun tidak terlalu rapi, tujuannya jelas adalah mengantarkan bola kepada penyerang untuk kemudian dikonversi menjadi gol (lihat ilustrasi gambar dibawah untuk pergerakan formasi 4-4-2). Sementara formasi 4-2-3-1 akan menghasilan aliran permainan yang dinamis, namun tidak melulu mengalirkan bola untuk mengarah ke lini depan, dimana aliran bola akan lebih banyak berkutat di lini tengah. Jelas fans MU yang sudah terbiasa disuguhi permainan agresif, ofensif nan haus gol ala Sir Alex akan sewot manakala sekarang mereka disuguhi permainan anggun, dinamis, namun cenderung stagnan ala Louis van Gaal.

Pergerakan 4-4-2

“Pergerakan Formasi 4-4-2 Manchester United tahun 2007/2008”

Sekadar perbandingan, tatkala diasuh Sir Alex, Manchester United biasanya memiliki minimal 4 pemain yang bisa beroperasi sebagai striker untuk tetap menunjang formasi dengan menggunakan 2 penyerang. Namun sekarang van Gaal hanya memiliki 3 striker (Rooney, Martial, Wilson), dengan catatan bahkan Rooney dan Martial juga kerap kali dipaksakan bermain lebih ke dalam. Pada saat meraih treble winners 1999, skuad Setan Merah memiliki 4 striker : Yorke, Cole, Solskjaer, dan Sheringham. Ketika meraih trofi Liga Champions 2008, Sir Alex mengandalkan Rooney, Tevez, Saha, Welbeck, dan Cristiano Ronaldo yang kerap diturunkan menjadi striker. Era terakhir kepemimpinan Sir Alex, pada saat meraih trofi Liga Inggris ke-20 pada tahun 2013, Red Devils sangat mengandalkan kinerja Van Persie, Rooney, Chicarito, dan Welbeck. Jelas terlihat perbedaan filosofi dan juga perbedaan penerapan formasi.

MU-442classic

“Formasi 4-4-2 Manchester United tahun 1998/1999”

MU-442new

“Formasi 4-4-2 Manchester United tahun 2012/2013”

Sekarang, banyak fans yang mengharapkan Manchester United kembali menggunakan formasi dengan mengandalkan 2 ujung tombak. Rooney dan Martial akan menjadi pasangan fantastis. Wilson punya potensi bagus, dan Memphis Depay juga bisa dimainkan lebih ke depan untuk menjadi penyerang. Juan Mata atau Fellaini juga dapat dijadikan alternatif untuk menjadi false nine, atau penyerang bayangan. Rasa-rasanya formasi 4-2-3-1 terlihat sebagai main aman dengan menumpuk banyak pemain di lini kedua. Namun patut diingat pula bahwa tanpa gol, mustahil sebuah tim meraih kemenangan. Dan peran pemain penyerang lah untuk membuat gol sebanyak mungkin. Tim racikan MU di masa lalu sudah membuktikannya, semakin banyak pemain penyerang, semakin besar kans memperoleh gol dan meraih kemenangan, dan itulah yang fans inginkan. Please, bring back our old and dangerous Manchester United!

FI-MU-old team

“Treble Winners Team”

Total Views: 7302 ,