Dari beberapa kali ngikutin workshop atau training tentang how to build business, seringkali gue denger perbedaan persepsi untuk menyikapi antara rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang. Short term plan dan long term plan, bahasa keren-nya. Beberapa orang yang baru mulai bisnis tentunya lebih banyak dicekokin dengan yang namanya short term plan. Apa pasal? Ya, biasanya long term plan alias rencana jangka panjang mereka akan dibedakan menjadi beberapa fase short term plan. Ada benarnya, namun juga tidak sepenuhnya tepat.

Seringkali kita malah terkotak-kotak dengan short term plan yang udah kita susun. Pada akhirnya kita jadi lupa apa sih yang menjadi long term plan kita. Hal ini bisa jadi bumerang. Dan gue pribadi sering mengalamin hal kayak gini. Sering gue coba susun si rencana jangka panjang, dan juga gue breakdown menjadi rencana jangka pendek, pada akhirnya riwayat cerita si rencana jangka panjang harus terpenggal. Contoh paling mudah adalah menabung. Misalkan kita berniat menabung katakanlah sebesar Rp 600.000 tiap bulannya. Cara paling gampang adalah, yaudah langsung aja kita sisihkan sebesar nominal tersebut dari pendapatan kita, dan amanlah sudah. Tapi yang sering terjadi kita malah berencana membagi rencana tabungan tersebut dalam satuan hari, which is, Rp 600.000 / 30 hari = Rp 20.000 tiap harinya. Terlihat nominalnya memang kecil dan mudah dijalankan. Tapi apa yang terjadi kalo kita lupa satu hari aja menabung? Otomatis simpanan kita dalam sebulan kedepannya hanyalah sebesar Rp 580.000.

Pentingnya Rencana Jangka Panjang

“Pentingnya Menyusun Rencana Jangka Panjang (source : 2020projectmanagement.com)”

Membagi sebuah big plan kedalam beberapa small plan tentu tujuannya untuk meminimalisir resiko yang mungkin terjadi dan strategi penyebaran resiko. Tapi akibatnya adalah perbanyakan aktivitas dan tentu membesarnya potensi terjadinya resiko.

Begitu juga dalam membangun bisnis. Kita sering terintimidasi untuk mengeluarkan biaya untuk mempromosikan produk kita dalam hal-hal mudah dan cepat, seperti brosur, membuat flyer, ataupun membuka stand/booth. Hal ini tidak salah untuk dilakukan. Tapi tidaklah sustainable. Kenapa gue bisa ngomong kayak gini?

Gue jadi keinget message yang di-broadcast ama bigboss kantor, yang mengutarakan bahwa ROI memang penting, tapi ada yang lebih penting yaitu return of your time.

So i have received this question a couple of times in various forms, should we hand out flyers, should we put up a booth on the train station, should we send out an email with X partner, etc etc. The answer to the questions is that your goal is to maximize return on your time, not ROI.

So what i would look for this point is, how do i build sustainable on going marketing channels that work 7 days a week, 365 days per year, and not just for 1 week or 1 month. These are usually worth a much higher ROI on your time, but also builds up our business.

Kira-kira begitulah message si bigboss dalam bahasa doi sehari-hari.  Awalnya gue pengen mendebat dan mencari literatur untuk membantah. Tapi setelah dipikir-dipikir dan ditelaah lebih lanjut, ternyata emang ada benernya. Couldn’t agree more! Kalo emang ingin mencapai tujuan bisnis kita yg sustain, maka rencana jangka pendek memanglah penting, namun rencana jangka panjang adalah segalanya. Sama halnya dengan ilustrasi menabung diatas, hal ini juga berlaku untuk kehidupan sehari-hari. Seringkali kita lebih mendewakan rencana jangka pendek ketimbang menyusun rencana jangka panjang kita dengan benar.
Baru sadar, itulah kenapa seringkali di sesi interview kerapkali kita disodorkan pertanyaan mengenai “Rencana Anda 5 Tahun ke depan” atau “Rencana Anda 10 Tahun ke depan”. Hal itu menunjukkan rencana jangka panjang amatlah krusial, dan bahwa pihak lain dapat menilai diri pribadi kita dari apa rencana jangka panjang yang kita canangkan.
Total Views: 1013 ,