Semua bermula pada suatu hari di salah satu sudut ibukota. Salah seorang rekan kantor yang tidak mau diungkapkan namanya, sebut saja namanya Etik, mengajukan sebuah ajakan yang diyakini bakal membuat insan traveler tergiur “Ada yang mau ke tracking ke Dieng sama Prau gak?”. Tak dinyana rupanya ajakan tersebut mendapatkan respon lumayan positif, manakala banyak juga rekan kantor lainnya yang tertarik untuk menjadi partisipan. Embel-embel trip seru, harga murah, terima beres, semua tersedia, dan hal menarik lainnya rupanya cukup ampuh untuk menjaring peserta. Bayangin aja, hanya dengan Rp 500.000, siapa yang berminat bisa mengalami pengalaman menakjubkan di negeri khayangan : Dataran Tinggi Dieng. Gue pribadi, udah 2 kali menjejakkan kaki ke Dieng dan sekali mencapai puncak Prau, tapi ajakan ini mustahil buat ditolak. Jiwa sebagai traveler murah meriah dan mantan pendaki gunung kembali menggelora, dan embel-embel positif dari ajakan trip kali ini sukses membuat gue terpikat.

Long story short, jadilah trip ini dilaksanakan. Dipilihlah waktu yang bisa mengakomodir semua kehadiran dan keinginan peserta trip kali ini, dan tanggal 24-27 Maret 2016 terpilih menjadi serangkaian tanggal yang beruntung untuk dijadikan trip time. Berbekal modal bahwa tanggal 25 Maret 2016 adalah tanggal merah alias libur, semua berkomitmen penuh untuk memulai trip di Kamis malam tanggal 24 Maret 2016. Dengan komposisi peserta sebanyak 12 orang plus 1 orang yang dianggap sebagai Tour Leader (TL). Dengan berbekal sebuah mobil ELF berwarna putih ceria, jadilah ke-13 insan manusia penggemar konsep travel murah meriah ini meninggalkan ibukota menuju negeri khayangan!

Day 1

Gak banyak yang bisa diceritakan dari hari pertama ini. Hanya berkisar minus 4 jam  dari berakhirnya hari itu (24 Maret 2016), Sarinah terpilih menjadi meeting point untuk memulai perjalanan. Meskipun kawasan Sarinah baru-baru saja dinobatkan sebagai lokasi aksi terorisme, dan telah lama dinobatkan sebagai kawasan berbahaya bagi lelaki normal, but the show must goes on! Saking semangatnya mungkin, jam 7 malem beberapa dari mereka sudah bergerak meninggalkan kerjaan menuju lokasi meeting point. Dan jadilah, salah satu gerai makanan cepat saji asing, berinisial KFC, menjadi penuh sesak dengan segelintir manusia yang dilengkapi tas-tas gunung segede gaban dan seperangkat camping lainnya. Sebenarnya si pemilik gerai ini bisa aja melancarkan protes, udahlah bawaan banyak menghalangi jalan calon customer lainnya, beli makanan pun gak seberapa, ditambah suara ribut yang membahana yang pasti mengusik telinga customer lainnya. Jam 9 malam teng, akhirnya penderitaan si gerai cepat saji ini berakhir. Bertepatan dengan datangnya sebuah mobil ELF putih untuk membawa serta ke-13 orang meninggalkan kota Jakarta.

Day 2

Hari kedua, Jumat 25 Maret 2016,  tercatat dimulai masih dalam kondisi perjalanan Jakarta-Wonosobo. Efek libur panjang, jalanan dimana-mana yang mengarah keluar kota Jakarta macet total, dan gak ada cara lain menghabiskan bosan di dalam kendaraan selain TIDUR. Meskipun kondisi jalan lumayan kurang mantap, dan kondisi mobil yang penuh sesak sama tas bawaan, gak mengurangi nikmatnya tidur dan mengenang bahwa hari ini gak perlu menginjakkan kaki ke kantor. Oh, indahnya hari libur!

Singkat cerita udah pagi, dan pelan-pelan kondisi di mobil mulai kembali dihidupi oleh muka-muka bantal yang masih berusaha ngumpulin nyawa. Check this out!

muka bantal

“muka bantal”

Muka bantal tapi sebenernya excited karena udah jam-nya sarapan. Dan untuk pemberhentian pertama, dipilihlah kota Purwokerto, yang ternyata banyak menyimpan kenangan indah buat salah seorang peserta trip kali ini, sebut saja bernama Moga. Alasannya? Ah, sudahlah tidak perlu diungkapkan dimari 🙂

Well then, jam 9 pagi, here we are at Purwokerto. Satu hal yang gw inget di kota ini adalah kampus Unsoed, atau Universitas Jenderal Soedirman, yang merupakan salah satu universitas negeri terbesar di negeri ini. Tapi rupanya, Purwokerto, bukan hanya Unsoed coy, masih banyak hal-hal indah lainnya (menurut pengakuan Moga, subjektif sekali memang). Dan kunjungan ke kota Purwokerto diakhiri dengan sesi kuliner : Soto Sukaraja. Sekilas gak ada yang istimewa dalam soto, terlihat sama seperti soto pada umumnya, yang ngebedain adalah ternyata rasanya yang…MANIS. Coba bayangkan makan soto rasa manis 🙂

menikmati soto sukaraja

“menikmato soto sukaraja di Purwokerto”

Oh, dan di kota ini, mendadak Citra sang Diva, memperoleh ilham dari sebuah truk yang melintas. Tau kan tulisan-tulisan yang suka ada di belakang body truk itu? Ya, dan kata-kata yang terpilih kali ini, adalah TERLANJUR BASAH. Dan kelak kata ini akan menjadi tagline perjalanan sampai akhir.

The show still goes on, perjalanan kudu dilanjutin, yang artinya tidur pun kembali dilanjutkan. Udah kaya kebo banget, tidur makan tidur. Skip skip, finally sampe ke kota Wonosobo sekitar jam 1 siang. Namun rupanya disini salah satu peserta harus tereliminasi, alias tidak bisa melanjutkan trip bersama rombongan lainnya, karena satu dan lain hal. We’re gonna miss you Kak Iin! Untuk menghormati tereleminasinya Kak Iin, maka peserta tersisa bertekad untuk makan-makan dan melangsungkan sesi foto-foto di Wonosobo (gak ada hubungannya juga sih..).

welcome to wonosobo

“Selamat datang di Wonosobo”

Dari Wonosobo, perjalanan dilanjutkan kembali, dan… akhirnya sampe juga di dataran tinggi Dieng! Penginapan Bu Djono terpilih sebagai penginapan beruntung yang dikunjungi oleh ber-13 dikurangi 1 orang ini. Udara dingin mulai menusuk kulit, dan gak ada salahnya berganti kostum ala-ala anak gunung. Berhubung jadwal pendakian baru dimulai jam 7 malam, prinsip kebo kembali diimplementasikan, tidur makan tidur makan. Rupanya Bu Djono gak cuman nyedain penginapan, tapi juga berbagai jenis makanan dan minuman hangat. Favoritnya? Jelas mie ongklok (salah satu makanan khas Wonosobo) dan juga Sup Jamur. Hajar!

Setelah berpuas ria makan dan minum di penginapan Bu Djono, sampai juga ke acara yang ditunggu-tunggu : pendakian ke gunung Prau. Menurut rencana awal dari Leader pendakian kali ini, Mas Eli (yang rupanya merupakan juga pemilik dari warung Bu Djono!), pendakian bakalan melewati jalur Dieng. Sebagai informasi, tercatat sebenarnya ada 4 jalur untuk bisa menuju Puncak Prau (sumber : diengnesia.com) , sebagai berikut :

  1. Jalur Pendakian Gunung Prau Via Patak Banteng, dengan rute jalur pendakian Gunung Prau melalui base camp patak banteng yang merupakan salah satu rute favorit bagi para pendaki karena akses menuju Gunung Prau lebih cepat, basecamp Prau beralamatkan di Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, basecamp pertama yang bisa dijumpai sebelum menuju Dieng.
  2. Jalur Pendakian Gunung Prau Via Kali Lembu, dengan rute jalur pendakian Gunung Prau kedua setelah Patak Banteng, Basecamp pendakian Gunung Grau via Kali Lembu beralamatkan di Desa Kali Lembu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, basecamp kedua setelah Patak Banteng.
  3. Jalur Pendakian Gunung Prau Via Dieng Wetan, dengan rute jalur pendakian Gunung Prau ketiga setelah Kali Lembu, Basecamp Dieng beralamatkan di Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, merupakan jalur pendakian favorit karena dekat dengan obyek wisata dieng, lokasi basecamp berdekatan dengan penginapan Bu Djono.
  4. Jalur Pendakian Gunung Prau Via Dwarawati, dengan rute jalur pendakian Gunung Prau yang keempat setelah basecamp Dieng, BaseCamp Dwarawati beralamatkan di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, lokasi basecamp berdekatan dengan obyek wisata Candi Dwarawati

Dengan beberapa alasan tertentu, dan cukup dekatnya lokasi basecamp penginapan Bu Djono, jadi dipilihlah Jalur Dieng sebagai rute pendakian. Dengan dipimpin leader Mas Eli, dan sweeper Daniel sang TL, pendakian dimulai dengan diawali oleh doa keselamatan untuk diri sendiri dan untuk rombongan. Here we go!

doa dulu sebelum mulai pendakian

“Doa dulu sebelum mulai pendakian”

Jalur Dieng ini bisa dibilang tidak terlalu ekstrem seperti jalur lainnya seperti jalur Tapak Banteng. Jarak tempuh pun jadi lumayan lama sekitar 4-5 jam dibandingkan 2-3 jam jika menggunakan jalur Tapak Banteng. No problemo, buat kami jalur apapun yang dipilih akan kami taklukkan Bravo! Namun, begitu masuk 200 meter pertama pendakian, terlihat di sebelah kiri jalan terdapat area pemakaman. Ditambah suasana sekitar yang gelap gulita, hanya bermodalkan headlamp murah meriah boleh beli di Glodok Elektronik (hanya Rp 37 ribu lho!), dan diiringi hujan, awal pendakian terasa agak mencekam. Boro-boro mau ngobrol, buat ngeliat kanan kiri aja agak sungkan. Sesampainya di pos 1 (Pos Gemekan), akhirnya suasana mulai agak cair cuy. Semangat kembali berkobar, dan target berikutnya sudah dicanangkan, Pos 2! Untung aja sih perjalanan menuju pos 2, gak terlalu se-mistis perjalanan di awal tadi. Kanan kiri didominasi hutan pinus, dan sesekali ada jurang di kanan kiri, membuat kami tetap waspada. Sesampainya di Pos 2 (Pos Simendung) semuanya take a break, dan literally makan kitkat (anjir,iklan banget) yang dibawakan si TL. Gak sabar mau sampe puncak sebelum berganti hari, pendakian mulai dikebut dan sampai juga di Pos 3 yang namanya tidak disebutkan oleh Leader. Di pos ini terdapat sedikit dataran yang bisa langsung melihat ke kawasan Dataran Tinggi Dieng. Nyobain berbaring sambil ngeliat bintang, sayang banget gak ada bintang di langit, dan sayang banget gak sempet sama sekali buat mengabadikan gambar disana, what a shame!

Anyway, we had amazing view here. Dan jadi makin semangat buat sampe puncak, gara-gara dikomporin mas Eli kalo di puncak pemandangan bakal lebih yahud lagi. Bring it on!

Mas Eli gak bohong. Sesampenya di puncak, keliatannya pemandangan bakal dahsyat, karena posisi yang sudah di puncak (2565 mdpl), dan suasana yang udah gunung abis. Oke, gelar tenda sekarang! But hey, finally we arrived at top. haha, congrats guys, especially buat yang baru perdana naik gunung 🙂

Kelar tenda dibangun dalam waktu singkat, acara makan-makan dan bakar-bakar segera digelar berhubung semuanya udah pada kedinganan dan kelaperan. Can’t wait to see sunrise early morning tomorrow!

tenda didirikan

“Akhirnya si tenda berhasil didirikan”

bakar-bakar

“bakar-bakar”

Day 3

Karena udah terbiasa gak tidur selama perjalanan, akhirnya gue memutuskan untuk gak tidur dan sebisa mungkin menikmati suasana selama di puncak Prau. Ternyata juga masih ada beberapa oknum yang berpikiran serupa, walhasil acara bakar-bakar berlanjut sampe pagi (niatnya). Jadi emang udah dijanjikan bahwa jam 5 pagi semua kudu bangun dari tidur lelap dan merasakan greatness of the nature berupa sunrise dari atas puncak gunung!

Tapi emang manusia cuman bisa berencana, hanya Tuhan yang menentukan. Tepat di jam yang dijanjikan, nyatanya baru ada beberapa gelintir kepala yang bangun (berhubung udara superr dingin, emang paling bener tetep ngeringkuk di dalem tenda), ditambah lagi kabut yang mulai turun dan menutupi seluruh permukaan gunung Prau. Sinar matahari bahkan gak kelihatan sama sekali dari lokasi tenda, dan ditunggu sampai pagi hari kabut tetap belum bergegas pergi. Hiks, we’re missing one of the greatness moment of the nature 🙁

Puncak Prau di pagi hari

“Puncak Prau di pagi hari, gak ada sunrise”

Fenomena sunrise memang sepertinya hanya kejadian biasa yang berulang-ulang setiap harinya. Tapi momen kebersamaan di puncak gunung, dengan pemandangan dramatis di sekeliling, tentunya menjadikan sunrise sebagai salah satu kegiatan favorit para pendaki gunung di puncak. Tapi apa boleh buat, gak ada sunrise, foto-foto pun jadi. Jadilah beberapa dari manusia ini yang mengklaim dirinya sebagai bagian dari Komunitas Lari Malam (KLM) tetap bersikeras mencari spot-spot terbaik di Puncak Prau untuk dapat diabadikan dan dipamerkan kelak kepada teman kantor. Memang bukan tujuan mulia, tapi begitulah mereka, tidak ada yang mulia diantara mereka 🙂

foto-foto pamer senyum

“Senyum di pagi hari”

Salam terlanjur basah!

“Sebelum turun gunung, salam TERLANJUR BASAH”

Puas foto-foto dan berlagak menjadi foto model profesional, akhirnya Leader memberi komando untuk segera turun gunung mengingat hujan sepertinya bakal turun (lagi). Rute yang ditempuh untuk turun berbeda dengan pendakian, yaitu melewati jalur Tapak Banteng. Ahh, gampang!

Sombong sekali memang. Rupanya jalur turun gunung via Tapak Banteng menyimpan sejumlah pemandangan luar biasa, namun harus ditempuh dengan tenaga yang juga luar biasa! Jalurnya ekstrem coy! Jalan menurun terjal, dengan bebatuan berserakan, dan pemandangan jurang yang Masya Allah menyeramkan. Dengan tingkat kelandaian yang juga rada ekstrem, semua harus tetep waspada dan fokus ke depan. Salut buat temen-temen yang bisa tetep fokus sampe ke bawah.

Tapi tetep gak mengurangi keindahan pemandangan Dieng dan sekitarnya sepanjang perjalanan turun gunung. Para pendaki ini udah gak memedulikan lagi ada beberapa pos yang tergelar sepanjang jalur Tapak Banteng, yang penting adalah bisa cepet-cepet sampe ke bawah, mandi, dan bersyukur kepada Tuhan sudah diberikan keselamatan 🙂

turun gunung

“turun gunung”

uji nyali di jalur Tapak Banteng

“uji nyali di jalur Tapak Banteng”

rehat sejenak

“rehat sejenak”

Alhamdulillah, jalur Tapak Banteng berhasil ditaklukkan. Bisa dibayangin, kalo pada saat pendakian Leader memutuskan untuk menggunakan jalur ini, pasti banyak pendaki yang melambaikan tangan ke arah kamera alias menyerah tanpa syarat sebelum sampe puncak Prau. Great job guys! And what an amazing track we had!

Sekembalinya ke basecamp penginapan Bu Djono, langsung gragas makan-makan sampe kenyang mampus, dan Leader gak kasih ampun untuk istirahat. Langsung diputuskan untuk kembali wisata alam menuju pemandian air panas dan wisata candi. Rupanya si Leader ini gak mengenal kata ampun untuk memperkenalkan semua objek wisata menarik di seputaran Wonosobo.

Jadilah sesorean si putih ELF yang dikomandoi oleh sopir legendaris bernama Pak Bambang kembali menuruni Dataran Tinggi Dieng dan menuju pemandian air panas yang konon katanya pernah didatangi oleh kru My Trip My Adventure. Selidik punya selidik ternyata nama pemandian ini adalah Pemandian Air Panas Merawu, atau ada juga yang menyebutnya Pemandian Air Panas Giritirta karena lokasinya yang berada di Desa Giritirta. Bayangin aja men, pastinya nih pemandian luar biasa banget. Si Leader gak bohong, rupanya dia pribadi yang jujur. Meskipun perjalanan menuju kesana jauh lebih horor daripada jalur mematikan Cadas Pangeran di Sumedang, si pemandian air panas bener-bener merupakan salah satu ciptaan Tuhan paling sexy. Kapan lagi bisa menikmati momen mandi air panas dari sungai langsung dengan pemandangan sawah di sekeliling? Kapan lagi bisa sampo-sampoan dan sabun-sabunan di sungai di lembah gunung? Kapan lagi bisa ganti baju di tengah sawah,ups? Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan, begitu pertanyaan Mas Bagong dalam hati 🙂

pemandian air panas merawu

“AB Three dan penari latar di pemandian air panas Merawu :)”

pemandian air panas Merawu selfie

“here we go, pemandian air panas Merawu!”

Last but not least, udah puas bersih-bersih badan, final destination (bukan judul film yaa…) adalah kawasan Candi Dieng atau biasa disebut Candi Arjuna. Jadi emang komplit banget paket wisata yang ditawarkan TL plus Leader kali ini : mulai dari wisata kuliner, tracking gunung, wisata pemandian air panas, wisata candi. Bayangin aja sih hanya dengan modal investasi awal Rp 500.000 udah bisa dapetin semuanya, TL mana lagi yang bisa nawarin kaya gini (promosi gratis nih bro Daniel :))

Dan saat-saat paling mengharukan telah tiba, perpisahan. Berpisah dengan kawasan Dieng yang udah memberikan banyak pengalaman keren dan seru selama 2 hari ini bisa jadi merupakan salah satu perpisahan terberat yang pernah dirasakan. Bahkan anak-anak komunitas KLM udah merencanakan bakal menyambangi lagi kawasan ini, padahal raga belum officially meninggalkan kawasan Dieng. Thanks a lot to Mas Eli as Leader, thanks atas tumpangannya di penginapan Bu Djono, thanks atas panduannya selama tracking ke Prau dan penelusuran ke Pemandian Air Panas Merawu.

And it’s time to go back to real life 🙁

Day 4

Sama seperti hari pertama, gak banyak yang bisa diceritain di hari ke-4 ini. Rombongan ini tetap menerapkan prinsip kebo, alias tidur selama perjalanan. Rupanya mereka berpegang teguh kepada prinsip mulia bahwa tidur adalah ibadah.

Untung aja perjalanan pulang gak semacet perjalanan pergi. Pukul 10.00 pagi (27 Maret 2016) semua insan ini telah kembali menjejakkan kaki ke ibukota Indonesia, dan kembali ke meeting point awal di kawasan Sarinah. Dan terpilihlah salah satu gerai pizza internasional berlabel Pizza Hut sebagai destinasi sarapan dan lokasi berlanjutnya permainan kartu Werewolf yang dipercaya sebagai permainan menyesatkan 🙂

What an amazing trip guys!

ala-ala boyband

“padang ilalang pun gak luput jadi spot foto”

selfie!

“gak lengkap kalo belum selfie yang menandakan ketinggian gunung Prau”

Full Team

“Thanks Dieng-Prau trip. Here’s the full team (ki-ka bawah : Firza, Calsen, Etik, Moga, me ; ki-ka atas : Citra, Eli, Lesty, Mita, Daniel, Intan, Ipung, Bagong)”

Dan untuk menggambarkan keseruan perjalanan menuju Puncak Prau dan kawasan Dieng, berikut ditampilkan beberapa testimoni dari figur eksis yang ternyata juga malang melintang di media sosial.

Mengutip salah satu postingan ketua umum KLM, Bapak Firza yth., di salah satu media sosial berlatar warna merah :

“Sebuah cerita tentang negeri di atas awan! Sebuah cerita tentang tempat para dewa dan dewi bercengkerama… Sebuah perjalanan yang tidak hanya menyenangkan namun juga menenangkan! Sebuah petualangan dari kumpulan orang yang tidak pongah namun sangat jumawa… Thank you for the amazing weekend.. but most of all thank you for the memories!”

Juga kutipan dari salah seorang pangeran asal Singkawang, Koko Calsen, yang juga dilansir di salah satu media sosial berlatar merah :

“A great individual does not make a great team, a pack of great individuals will make it work. Here i am with the Great Team of strangers who try their best to reach the mountain. Pain, tired, slip, struggle, cold, combine together. I am pleased with this trip, Prau Mountain, this is another conqueror of you. May this trip bring us joy, strength, new passion, die hard spirit, and fresh mind.”

See you on another amazing trip guys! Salam TERLANJUR BASAH!

Total Views: 10124 ,